Balas Ejekan dengan Santun

Oleh: Junaidi Ismail, S.H. | Wartawan Utama 

DALAM kehidupan bermasyarakat, tidak ada satu pun manusia yang kebal terhadap kritik, cibiran, atau bahkan hinaan. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula kemungkinan dirinya menjadi sasaran penilaian publik. Di era media sosial yang serba cepat dan terbuka seperti sekarang, setiap ucapan, tindakan, bahkan ekspresi seorang tokoh dapat menjadi bahan pujian sekaligus bahan ejekan.

Karena itu, pernyataan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, saat mengunjungi Sekolah Rakyat Menengah Pertama 17 Tabanan di Bali menarik untuk dicermati.

Di hadapan para pelajar, Prabowo mengatakan bahwa dirinya hingga saat ini masih sering diejek meskipun telah menjadi presiden.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun jika dipahami lebih dalam, pesan tersebut sesungguhnya mengandung pelajaran psikologis dan kepemimpinan yang cukup penting bagi generasi muda.

“Jangankan kamu, saya sering diejek sampai sekarang. Presiden pun sering diejek.”

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa penghormatan publik tidak selalu berjalan seiring dengan jabatan yang dimiliki seseorang.

Menjadi presiden tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari kritik, sindiran, atau penilaian negatif.

Justru sebaliknya, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar sorotan yang diterimanya.

Di titik inilah pesan Presiden menjadi relevan. Beliau tidak sedang mengajarkan para siswa untuk membenci para pengkritiknya.

Beliau juga tidak mengajak mereka membalas hinaan dengan kemarahan. Yang disampaikan justru sebaliknya.

“Kalau kita diejek, kita balas dengan sopan santun.”

Pesan tersebut mengandung nilai moral yang semakin langka dalam kehidupan publik saat ini.

Fenomena yang terjadi sekarang menunjukkan bahwa masyarakat semakin mudah tersinggung.

Perbedaan pandangan politik sering berubah menjadi permusuhan pribadi. Kritik berubah menjadi kebencian. Diskusi berubah menjadi pertengkaran.

Media sosial memperparah keadaan. Banyak orang lebih tertarik memenangkan perdebatan daripada mencari kebenaran.

Tidak sedikit yang merasa dirinya paling benar dan menganggap orang lain musuh hanya karena memiliki pandangan berbeda.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar tidak dibangun oleh orang-orang yang gemar marah, melainkan oleh mereka yang mampu mengendalikan diri.

Kemampuan menerima kritik tanpa kehilangan akal sehat merupakan salah satu ciri kedewasaan individu maupun kedewasaan sebuah bangsa.

Karena itu, ketika seorang presiden mengatakan bahwa dirinya masih sering diejek namun tetap menjalankan tugasnya, pesan yang muncul bukanlah keluhan, melainkan keteguhan.

Setidaknya, itulah makna yang dapat ditangkap jika ucapan tersebut benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari.

Dalam ilmu kepemimpinan, terdapat konsep yang dikenal sebagai resilience atau daya lenting.

Istilah ini merujuk pada kemampuan seseorang untuk tetap berdiri tegak meskipun menghadapi tekanan, kegagalan, maupun penolakan.

Pemimpin yang hanya bergantung pada pujian biasanya tidak akan bertahan lama. Sebab pujian publik bersifat fluktuatif. Hari ini dipuji, besok bisa dicaci.

Sebaliknya, pemimpin yang memiliki keyakinan terhadap tujuan yang diperjuangkannya cenderung lebih stabil menghadapi berbagai tekanan.

Ketika Prabowo menyampaikan kepada para pelajar agar tidak mudah putus asa meski diejek, sesungguhnya beliau sedang mengajarkan pentingnya membangun ketahanan mental.

Pelajaran ini sangat penting bagi generasi muda Indonesia.

Banyak anak muda yang sebenarnya memiliki potensi luar biasa, tetapi menyerah terlalu cepat hanya karena takut gagal, takut ditertawakan, atau takut dianggap berbeda.

Padahal hampir semua tokoh besar dunia pernah mengalami penolakan, kegagalan, bahkan penghinaan sebelum mencapai keberhasilan.

Hal menarik lainnya dari pidato Presiden adalah penekanannya bahwa kemiskinan orang tua bukanlah penghalang untuk meraih masa depan.

Pernyataan ini memiliki dasar yang cukup kuat. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kondisi ekonomi memang memengaruhi peluang seseorang memperoleh pendidikan dan akses kehidupan yang lebih baik.

Namun kondisi ekonomi bukanlah satu-satunya faktor penentu keberhasilan.

Disiplin, pendidikan, lingkungan yang mendukung, ketekunan, serta kemauan untuk terus belajar juga memiliki peranan yang sangat besar.

Di berbagai negara, termasuk Indonesia, tidak sedikit tokoh sukses yang lahir dari keluarga sederhana.

Mereka berhasil bukan karena memiliki jalan yang mudah, melainkan karena memiliki daya juang yang kuat.

Karena itu, pesan Presiden kepada para pelajar agar tetap optimistis patut diapresiasi.

Anak-anak Indonesia memang membutuhkan harapan. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa masa depan dapat diubah melalui pendidikan dan kerja keras.

Sebagai warga negara, saya melihat pernyataan Prabowo tersebut menunjukkan sisi kepemimpinan yang layak dihargai.

Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu mengambil keputusan, tetapi juga harus mampu memberikan teladan moral kepada masyarakat.

Mengajarkan kesabaran di tengah budaya saling menghina bukanlah pekerjaan mudah.

Mengajak anak-anak membalas kebencian dengan kesopanan juga bukan pesan yang populer di zaman ketika banyak orang lebih senang membalas caci maki dengan caci maki yang lebih keras.

Karena itu, apabila nilai-nilai yang disampaikan tersebut benar-benar menjadi pedoman dalam praktik kepemimpinannya, maka publik patut memberikan apresiasi.

Sebab seorang negarawan bukan hanya berbicara tentang kekuasaan, melainkan juga tentang karakter.

Negarawan tidak diukur dari seberapa banyak pidato yang disampaikan, tetapi dari kesesuaian antara kata dan tindakan.

Namun demikian, apresiasi tidak boleh menghilangkan sikap kritis. Dalam negara demokrasi, rakyat tetap memiliki hak untuk mengawasi pemerintah.

Dukungan kepada presiden bukan berarti menghapus kewajiban untuk mengingatkan ketika ada kebijakan yang kurang tepat.

Begitu pula kritik terhadap pemerintah tidak boleh berubah menjadi kebencian yang membabi buta.

Kritik yang sehat dan dukungan yang rasional harus berjalan beriringan.

Karena yang dibutuhkan bangsa ini bukan hanya pemimpin yang pandai berbicara, melainkan pemimpin yang mampu membuktikan ucapannya melalui kebijakan dan tindakan nyata.

Maka ketika Presiden Prabowo mengatakan bahwa dirinya masih sering diejek namun tetap teguh menjalankan tugasnya, masyarakat tentu berharap kalimat tersebut bukan cuma retorika yang indah didengar.

Harapannya sederhana. Semoga pesan tentang kesabaran, keteguhan, sopan santun, kerja keras, dan optimisme yang beliau sampaikan kepada para pelajar Bali benar-benar menjadi fondasi dalam menjalankan pemerintahan.

Sebab bangsa ini tidak membutuhkan omon-omon.

Bangsa ini membutuhkan keteladanan. Dan keteladanan selalu dimulai dari keberanian untuk membuktikan apa yang telah diucapkan. (*)

Bandar Lampung, 8 Juni 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *